Utilizamos cookies para melhorar sua experiência na loja. Ao aceitar, você estará ciente do uso de cookies e concordará com a nossa Política de Privacidade
Aviso de disponibilidade Informe seu e-mail para lhe avisarmos quando o produto estiver disponível para compra.


Enviar Cancelar
Aviso de disponibilidade
Insira seu e-mail para ser informado quando este produto chegar:
Enviar Fechar

Panah waktu terus melaju. Di akhir, Wira menulis tanggal pada sampul portofolionya: 21 Maret — hari ketika ia memutuskan untuk hidup menurut pilihannya sendiri, memelihara kota kecil yang ia cintai, dan menghormati kura-kura yang mengajarkan kesabaran.

Di tepi kota kecil itu, ada sebuah kolam tua yang tak pernah kering sepenuhnya. Setiap pagi, Matahari memantulkan kilau tembaga di cangkang kura-kura tua yang selalu duduk di batu paling tinggi. Penduduk setempat bilang kura-kura itu membawa keberuntungan — atau setidaknya, itulah yang dipercayai Wira.

Wira berusia dua puluh satu, sedang berada di persimpangan hidup. Setelah lulus, ia bingung memilih jalan: mengikuti jejak keluarganya ke pabrik, atau meneruskan mimpinya sebagai fotografer. Ayahnya ingin kepastian, ibunya hanya berharap Wira bahagia. Di saat yang sama, kota itu berubah: toko-toko kecil tutup, apartemen baru berdiri, dan kolam tua mulai terancam reklamasi.

Hari demi hari, mereka merancang proyek: memotret wajah kota sebelum semua berubah. Mereka mewawancarai pemilik toko kelontong, tukang ojek yang telah puluhan tahun berteduh di bawah pohon, anak-anak yang bermain petak umpet di gang sempit. Melalui proyek itu, Wira mulai memahami akar keputusannya: bukan hanya soal karier, tapi juga tentang warisan, identitas, dan tempat yang ia sebut rumah.